Kiai dan Bangsat

Saturday, September 20, 2014

Seorang kiai memimpin sebuah pesantren kecil di Kebondalem, bernama KIai Haji Anwar, terkenal sabar dan wara’. Wajahnya selalu bersih karena keikhlasannya. Ia tidak pernah mengeluh walaupun hari-harinya dipenuhi kesibukan mengurus para santri dan masyarakat sekitarnya.
Ia tidak pernah menolak udangan, kecuali jika ada halangan yang tidak mungkin ditinggalkannya. Kepada orang kaya ia baik, kepada orang melarat ia lebih baik. Kalau ada jemaah yang meninggal dunia, ia paling dulu tiba dan paling belakang pulang. Jika melawat kek kuburan selalu paling depan meskipun umurnya paling tua. Suaranya menggeletar apabila membaca talkin di depan makam, membuat yang di kuburan bersumpah akan tobat sekembali mereka dari upacara pemakaman. Paling tidak janji itu dilaksanakan waktu belum seberapa jauh berjalan pulang. Apakah yang mati mendengar talkin yang dibacanya atau tidak, Kiai Anwar hanya mengembalikan urusannya kepada Yang Maha Mendengar, yaitu Allah, tempat berpulang semua makhluk.

Kiai Haji Anwar hampir selalu pulang larut malam. Sebab ia mengajar dari pagi hingga larut. Ia bersedia mendatangi pengajian dimanapun ia dibutuhkan. Ia tidak berpegang pada aturan, gayung harus mendatangi tempayan. Jika perlu tempayan yang menggelinding mendatangi gayung-gayung yang kehausan.

Lepas subuh ia sudah mengajar. Pada saat pencuri keluar, ia baru pulang. Maka kampungnya aman melebihi centeng penjaga malam. Biasanya ia pulang jam dua belas. Jam satu tidur, jam tiga bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, kemudian membaca Alquran pelan-pelan menunggu bedug dipukul. Begitu tiap malam. Tidurnya hanya sedikit. Makannya Cuma sedikit. Amalnya yang banyak. Sedekah orang tidak pernah ditolak, tetapi ia tidak pernah memintanya. Yang disimpan hanya sebagian, selebihnya menjadi rezeki orang-orangyang tidak bisa membayar hutang, atau lantaran yang mau berobat lantaran sakit. 

Pada usatu hari jam dua ia baru tiba dirumah, sebab ada seorang ayah santri sedang sakaratul maut, yang terpaksa ditungguinya hingga nyawanya terlepas sambil bibirnya mengucapkan kalimat tauhid berkat bimbingannya. Istrinya telah tertidur menunggu kedatangannya yang begitu larut. Hampir setengah jam baru anaknya terjaga, itu pun setelah si bayi mengencinginya.

Kiai sesudah berwudlu baru tidur, kurang lebih pukul setengah tiga malam. Ternyata malam itu ia tidak bisa menikmati mimpinya terlalu lama. Jam tiga malam kutu-kutu busuk di balai-balainya kelaparan sehingga salah seekor menggigit pahanya. Kiai terbangun.

Umumnya orang lain akan marah-marah kepada binatang kecil itu, yang sering juga dinamakan kepinding. Danbiasanya nasib kepinding sudah dapat diramal kalau tertangkap oleh manusia. Dipencet remuk hinggakeluar darah hitamnya, disertai kutuk dan serapah karena sudah mengusik istirahat manusia yang sedang lelah dan diserang kantuk.

Namun ,Kiai Haji Anwar tidak. Pada waktu makhluk kecil yang terkenal dengan nama bangsat itu tertangkap oleh tangan kanannya, sama sekali tidak disakitinya. Dipindahkannya bangsat itu ke tempat lain, supaya tidak mengganggunya lagi. Lalu sambil menggaruk-garuk pahanya yang gatal, Kiai Anwar berkata, “Alhamdulillah,untung ada kepinding. Andaikata tidak ada makhluk kecil yang disebut kepinding ini, pasti aku tidak akan bisa merasakan nikmatnya menggaruk-garuk paha yang gatal.”

Memang, dalam benak Kiai Anwar terbersit pikiran, karena ada kepindingyang menggigit pahanya maka ia merasa gatal. Dengan adanya rasa gatal, kalau digaruk nikmat. Tapi kalau tidak ada rasa gatal, digaruk-garuk bahkanmenjadi merah dan sakit kulitnya.


Dikutip Dari : Cerita Islami
Share this article :

5 comments:

Terimakasih Atas Komentar Anda, Semuanya Akan Saya Balas Dengan Backlink Gratis Di Blog Doffolow Saya,, Tapi Ingat Berkomentarlah Dengan Sopan Dan Wajar,,, Salam hangat Segitiga Ilmu...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Segitiga Ilmu | Getaran Ilmu | Bang Tomo
Copyright © 2012. Segitiga Ilmu - All Rights Reserved
Created By Creating Website | Modified SnowClift
powered by Blogger