Showing posts with label Essay. Show all posts
Showing posts with label Essay. Show all posts

Merekayasa Atmosfer hingga Politik Global

Thursday, March 28, 2013


   Tak seorang pun di antara kita mau mengurangi kenikmatan hidup yang telanjur kita reguk. Hidup tanpa AC atau harus
meningkatkan setelan suhu dari 23º C menjadi 25º C. ”Untuk apa? Yang lain kan tetap memasang 23º C. Enggak ada
gunanya….” Alasan demi alasan selalu ada.

Kebanyakan kita pun sulit mengubah gaya hidup. Biasa memakai baju impor, tak peduli jejak karbonnya tinggi karena
harus diimpor dari luar negeri. Gak pede kalau berbaju buatan dalam negeri. Dan sebagainya, dan sebagainya.
Mengurangi kenyamanan sejalan dengan mengurangi aktivitas produksi. Keduanya bertujuan mengurangi emisi karbon—
salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Dalam satu abad terakhir suhu bumi telah meningkat rata-rata 1º C. Tahun 1997 di Kyoto, Jepang, diadopsi Protokol Kyoto
dalam lingkup Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) yang memuat kewajiban 37 negara maju
untuk menekan emisi hingga 5 persen di bawah level emisi tahun 1990.

Pertemuan demi pertemuan mengenai perubahan iklim di bawah payung UNFCCC selalu menjadi ajang adu argumen
antara negara maju dan negara berkembang. Sementara berbagai program adaptasi dan mitigasi terus dijalankan
dengan tertatih. Upaya mitigasi kebanyakan dilakukan secara individual dan korporasi.

Awal tahun ini perusahaan konsultasi McKinsey di Eropa berdasarkan hasil kajian mereka menyatakan, ongkos bagi
upaya dunia untuk menurunkan 2º C suhu bumi akan membutuhkan sekitar 350 miliar euro per tahun—setara dengan Rp
4.900 triliun—pada tahun 2030.

”Dunia akan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 70 persen pada tahun 2030, tapi harus dengan aksi
lintas sektor secara global dan segera,” demikian isi hasil kajian McKinsey (Dow Jones, 26/1). Biaya menjadi kendala.

Sementara itu, keengganan AS di bawah kepemimpinan George W Bush telah memicu kegalauan tersendiri secara global
karena AS dinilai mampu menjadi ”pemimpin” dalam perang melawan pemanasan global. Barulah ketika Barack Obama
mengambil alih posisi Bush, AS berubah haluan. Pekan lalu, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) sedang merancang
peraturan di bawah Clean Air Act, pemerintahan Obama meminta Kongres AS menanggapi isu perubahan iklim melalui ”
pembatasan dan perdagangan” karbon guna mengurangi emisi gas yang berkontribusi pada pemanasan global. Semua
peraturan tersebut akan langsung menjadi isu ekonomi dan sosial.

Langkah Obama memberikan sepercik harapan pada kemungkinan perang kita melawan pemanasan global. Akankah
kembali AS memimpin dunia seperti dulu dilakukannya pada Perang Dunia II? Akankah berhasil? Jawabannya masih kita
tunggu entah sampai kapan.

Perekayasa bumi

Ketika orang tak mau berpayah-payah, dan ketika orang tak mau kehilangan banyak uang, datanglah para ilmuwan
perekayasa bumi (geo-engineer) yang membawa pemikiran ekstrem: ”mengubah iklim dengan peralatan artifisial”
(Newsweek, 27/4).

Pemikiran tersebut muncul berawal dari pengamatan saat terjadi letusan Gunung Pinatubo pada 15 Juni 1991 di Filipina.
Letusan tersebut yang menewaskan ratusan orang telah menyemburkan abu ke atmosfer. Abu tersebut mengandung
banyak gas sulfurdioksida hingga mencapai lapisan stratosfer—lapisan di atas troposfer. Sulfurdioksida tersebut
menyelimuti bumi dan merefleksikan energi panas matahari ke ruang angkasa.

Sejumlah ahli meteorologi mengamati bahwa beberapa tahun kemudian suhu bumi secara global turun rata-rata 0,5º C.
Sementara suhu bumi telah naik 1º C sejak revolusi industri sekitar seabad lalu. Meski demikian, efek letusan Gunung
Pinatubo hanyalah sementara. Beberapa tahun kemudian suhu bumi global kembali merangkak naik.

Berbekal pengamatan tersebut, sejumlah ilmuwan, geo-engineer, mulai memikirkan rekayasa lain yang kemungkinan
bisa diterapkan, bisa dijadikan ”selimut” bumi guna merefleksikan energi panas matahari kembali ke luar angkasa.

Tahun 1990-an, Edward Teller, penemu bom hidrogen yang kontroversial, menggagas dan mengajukan usulan untuk
melontarkan partikel-partikel metal yang dapat mengambang di atmosfer yang berfungsi sebagai pemantul cahaya
matahari.

Geo-engineer lain melakukan pendekatan berbeda. Mereka menawarkan rekayasa carbon capture and storage (CCS),
yaitu menangkap karbon dan menyimpannya di sebuah tempat di dalam tanah. Pendekatan lain adalah mengubah gaya
hidup, seperti ditawarkan melalui pilihan penggunaan bahan bakar nonfosil, seperti meng- gunakan energi matahari,
gelombang, atau angin.

Secara keseluruhan, yang dilakukan para ilmuwan tersebut merupakan manifestasi dari dua pendekatan, yaitu
mendinginkan bumi atau membersihkan udara.

Pendekatan pembersihan melibatkan risiko yang lebih kecil karena tidak melibatkan peralatan serba besar atau
melibatkan gas-gas yang lain. Sementara upaya mendinginkan bumi, misalnya dengan CCS, amat berisiko. Jika
simpanan karbon bocor, dunia akan menderita lebih parah. Setiap tahun diperkirakan 30 triliun metrik ton karbon dilepas
oleh industri dan aktivitas transportasi. Jika diubah menjadi zat cair akan mampu mengisi Danau Geneva.

Saat ini The British Royal Society—tempat berkumpul ilmuwan yang amat bergengsi—telah memulai studi untuk beberapa
pilihan teknologi kebumian. Sedangkan The US National Academies of Science telah menggelar konferensi dan mereka
akan berkumpul lagi Juni mendatang untuk bicara lebih mendetail. Namun, belum ada keputusan politik tentang itu. Upaya
melalui rekayasa atau pendekatan teknologi ini juga didukung oleh peraih penghargaan Nobel, Paul Crutzen dan Thomas
Schelling.

Di luar itu semua, ada pertanyaan mendasar yang terus bergelung. Jika belum mampu memprediksi cuaca secara tepat,
bagaimana kita bisa percaya bahwa para geo-engineer mampu merekayasa iklim? Kita harus kembali ke baris pertama
tulisan ini: kita secara individu sebaiknya memberanikan diri mengubah gaya hidup dan mau ”hidup susah”.... Beranikah?

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/22/03040455/merekayasa.atmosfer.hingga.politik.global

Kearifan Teknologi


   Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sangat sedikit? Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual malah menjadikan manusia budak-budak mesin. Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar. (Albert Einstein)
KETIKA The Little Boy dan The Fat Man, dua bom atom AS, membubungkan cendawan merah di langit Kota Hiroshima dan Nagasaki tepat 59 tahun lalu yang diperingati pekan lalu, siapa pun akan miris membayangkannya. Wajah murka teknologi tampil beringas. Sorotnya bukan cuma telah membumihanguskan kota logistik nan cantik Hiroshima, melainkan juga menebarkan paparan radiasi tinggi kepada penduduknya. Lalu ribuan orang mati terpanggang dan terkena efek somatik-genetik radiasi pengion.
Kemanusiaan kita pasti menyesalkan tragedi itu. Namun, seberapa jauh kita bisa belajar dari peristiwa ini, menyikapi sains dan teknologi secara arif? Ini adalah pekerjaan rumah kita.

Sains dalam praksis

Pasalnya, sains telah berkembang dengan sangat pesat. Ia yang semula terikat pada spiritualitas, terus bergeser ke arah praksis. Sains yang awalnya lebih merupakan aktivitas mental primum vivere, deinde philosophari (berjuang dulu untuk hidup baru setelah itu berfalsafah) telah menjelma dalam praksis sebagai "penjelas" (explain) dan "peramal" (predict) fenomena alam.

Namun, tonggak praksis sains yang paling menonjol adalah apa yang terjadi dalam Revolusi Industri melalui penemuan mesin uap (1769) oleh James Watt. Mimpi Francis Bacon dalam bukunya The New Atlantis sebagai negara yang sarat hi-tech mewujud. Menurut Capra dalam The Turning Point, "sejak Bacon, tujuan sains berubah menjadi pengetahuan yang dihambakan untuk menguasai dan mengendalikan alam, yakni untuk tujuan-tujuan yang antiekologis" (F Capra, 1997).

Bagaimana dahsyatnya revolusi yang mengawali era modern itu digambarkan Peter Gay dalam Age of Enlightenment, bahwa betapa para pengusaha pabrik baru tanpa kekangan hukum dan etika bergerak dengan penuh kekejaman dan tanpa norma kesusilaan. Mereka mempekerjakan anak-anak selama 14, 16, atau 18 jam per hari. Buruh terpaksa menerima peraturan-peraturan kejam, sedangkan hukuman bagi yang melanggar sangat keras dan bengis (Peter Gay, 1966).

Akhirnya gerakan Luddite pada tahun 1811 meledak dan menghancurkan mesin-mesin industri. Karenanya kenangan yang paling kuat atas masa itu bukanlah pada aplikasi sains termodinamika dan teknologi mesin uap itu sendiri, tetapi pada kenyataan bahwa James Watt telah mengubah struktur masyarakat petani dan bangsawan Inggris serta membelahnya menjadi kaum buruh-proletar dan majikan-borjuis yang saling bermusuhan, serta memunculkan tokoh sebesar Karl Marx.

Ketika Soddy menemukan fenomena pembelahan inti (nuclear fission) atau Enrico Fermi merancang reaktor pertama di bawah stadion sepak bola Universitas Chichago, tak ada gegap gempita yang membahana. Namun ketika Manhattan Project mengincar plutonium dari Reaktor B di Hanford Site, Nevada, beserta instalasi pengayaan uranium-235 untuk The Little Boy dan The Fat Man, maka tatanan global pun berubah. Bukan saja masyarakat Jepang yang kental dengan semangat Bushido dan rela mati demi kaisar berubah menjadi manusia-manusia individualis yang memandang miring Tenno Heika (kaisar), Kimigayo (lagu kebangsaan), dan Hinomaru (bendera nasional), bahkan nuklir telah mengubah struktur kekuatan politik-ekonomi global pasca-Perang Dunia II.

Perubahan cepat

Kini gerak perubahan itu semakin cepat. Pertama, jarak yang semakin pendek antara penemuan sains dengan aplikasi
teknologi. Dalam fisika atom, misalnya, dulu orang meneliti sama sekali tidak dengan maksud memperoleh sumber
energi baru, tetapi lebih pada rasa ingin tahu tentang struktur terkecil materi. Namun, setelah ditemukan fenomena
pembelahan inti, maka fisika atom sudah menjadi teknologi.

Artinya, semakin lama jarak antara penemuan sains dan produk teknologi semakin pendek. Di masa lalu selang waktu itu
puluhan tahun, akibatnya sains masih menjadi domain publik meskipun teknologinya menjadi rahasia dagang yang
diperjualbelikan. Namun, sekarang, selang waktu itu menyusut menjadi tahunan saja karena konsentrasi pemikiran dan
komunikasi supercanggih antarsaintis. Akibatnya, sains pun menjadi rahasia dagang.
Kedua, perubahan posisi pusat-pusat keunggulan sains dan teknologi. Pusat-pusat keunggulan yang semula berada di
universitas ini telah berpindah ke lembaga riset pemerintah. Kemudian dengan semakin pendeknya selang antara
penemuan sains dan teknologi, tajamnya persaingan dagang, serta nilai tingginya nilai ekonomis penemuan sains, posisi
ini diambil alih perusahaan.

Terjadi pergeseran paradigma (techno-paradigm shift) di mana SDM menjadi modal utama perusahaan-bukan perangkat
fisik lainnya-dan perusahaan pun bukan sekadar memproduk barang dan jasa, tetapi pemikiran. Bahkan, dalam banyak
perusahaan manufaktur Jepang, investasi dalam riset jauh lebih besar daripada investasi untuk modal dan berubah dari
tempat untuk memproduksi barang menjadi tempat untuk berpikir (Fumio Kodama, 1995).

Fenomena ini tampak pula pada industri di Silicon Valley seperti Apple Computer, Intel, Hewlett-Packard, Xerox, Lucent
Technology, dan IBM. Bahkan model technology-belts seperti Silicon Valley digandrungi banyak negara seperti Tsukuba
(Jepang), Hsinchu (Taiwan), industri kimia di Basel, Swiss, atau Puspiptek, Serpong. Artinya, perusahaan telah menjadi
center of excellence pengembangan sains dan teknologi.

Dengan demikian, semakin hari sains dan teknologi makin terintegrasi dan tunduk pada mekanisme pasar. Riset akan
lebih bersifat market driven ketimbang academic driven. Bila demikian, bersama globalisasi, korporasi multinasional
(MNC) dapat mendiktekan teknologi asing pada suatu negara. Ini harus diwaspadai karena mereka, menurut Stuart Sim
dalam Nirmanusia, adalah kapitalis lanjut yang nafsunya tiada berujung untuk melakukan ekspansi dan inovasi teknologi
untuk melenyapkan moralitas kemanusiaan (Sim, 2001).

Karenanya perlu perlawanan terhadap nirmanusia, yakni ambruknya kemanusiaan yang dirancang oleh teknologi maju.
Manusia perlu menentang segala solusi yang nirmanusiawi yang didukung oleh kekuatan-kekuatan "tekno-sains", yakni
teknologi plus sains, plus kapitalisme lanjut, dan korporasi-korporasi multinasional.

Inilah awal tragedi seperti Minamata, Bhopal, Chernobyl, atau kasus Buyat yang baru-baru ini merebak. Fenomena ini
perlu dicermati karena kekuatan investasi berhasil mendiktekan munculnya regulasi semacam UU Sumber Daya Air dan
UU Penambangan di Kawasan Hutan Lindung atau memenangkan Pemda DKI terhadap KLH-dalam kasus reklamasi
pantura-yang ujung- ujungnya memarjinalkan kualitas ekologis kita.

Sejarah memperlihatkan, sains dan teknologi tidak serta-merta membawa kebahagiaan dan membuat hidup lebih
mudah. Penyelewengan teknologi telah menjungkirbalikkan nilai manfaat itu. Karenanya teknologi secara aksiologis perlu
dikendalikan etika manusiawi agar penyesalan Einstein di atas menjadi bermakna. Perlu adanya suatu kearifan teknologi,
yakni kearifan bagaimana menggunakan teknologi secara wajar agar ia membawa berkah, bukan bencana.
Inilah yang perlu direnungkan saat memperingati tragedi Hiroshima-Nagasaki.

Mulyanto Direktur ISTECS (Institute for Science and Technology Studies), Doktor Bidang Teknik Nuklir, dan Pernah 6 tahun
Tinggal di Jepang

sumber; Kompas Cyber Media

Siswa (Cerdas), Milik Siapa?

   Akhir-akhir ini wacana tentang keberadaan siswa cerdas dalam sistem pendidikan hangat dibicarakan. Diskusi
tentangnya sering mengacu pada pertanyaan pengelolaan, pendampingan, status, dan manfaat bagi masyarakat dan
bangsa.

Tanpa pemahaman jernih tentang antropologi pendidikan yang integral, pembahasan tentang anak-anak istimewa ini
hanya akan memuaskan kepentingan kelompok tertentu dan menjadikan mereka korban instrumentalisasi pendidikan.
Lebih dari itu, visi keadilan sosial dalam pendidikan terabaikan karena kebijakan pendidikan dikelola dengan pendekatan
elitis.

Visi tentang manusia

Pertanyaan teknis dan programatis tentang pendidikan anak cerdas hanya akan berkutat pada masalah pinggiran saat
pendidik dan pengambil kebijakan tidak memiliki visi mendalam tentang manusia yang dididik. Gagasannya, anak cerdas
sudah seharusnya ”dijadikan milik negara” (Kompas, 2/2), jelas mendasarkan diri pada pemahaman sempit antropologi
pendidikan. Di sini, yang diutamakan bukan pertumbuhan anak, tetapi lebih mengarah pada instrumentalisasi anak didik
yang mengobyekkan mereka demi kepentingan lain selain demi pertumbuhan dan perkembangan anak didik itu sendiri.

Demikian juga program kelas akselerasi yang marak terjadi. Program ini jauh dari gagasan manusia sebagai individu
unik. Manusia diredusir melulu pada kemampuan otak sehingga kapasitas ini perlu dikarbit pertumbuhannya melalui jalur
khusus. Parahnya, kelas akselerasi sering menjadi kedok untuk mengeruk dana masyarakat dengan dalih ekselensi
akademis. Faktanya, materi pembelajaran dipadatkan tanpa diferensiasi proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
anak.

Setali tiga uang. Model pendampingan pendidikan khusus dengan cara karantina demi persiapan olimpiade juga perlu
dikritisi. Model pendidikan seperti ini lebih merupakan instrumentalisasi anak-anak cerdas demi prestise kepentingan
kelompok tertentu, entah itu ”bangsa”, ”negara”, atau ”Departemen Pendidikan Nasional”.

Memang anak-anak cerdas itu perlu didampingi. Namun, pendampingan itu harus dilandasi dengan motivasi demi
pertumbuhan dan perkembangan anak didik sebagai pribadi unik dan layak mendapat layanan pendidikan sesuai dengan
dinamika perkembangan kepribadiannya. Selain itu, sebagai makhluk sosial, individu tidak akan tumbuh sehat jika model
pendidikan lebih berupa pemisahan daripada integrasi dan interaksi aktif dengan rekan sebaya.

Selama ini, program pendampingan anak-anak cerdas lebih didasari asumsi manusia berharga karena otaknya. Karena
itu, sebelum membuat program pendidikan bagi anak cerdas, pendidik dan pengambil kebijakan harus kritis bertanya
tentang antropologi pendidikan yang ada di balik setiap perencanaan pendidikan.

Milik kemanusiaan

Tidak ada yang memiliki hak untuk mengklaim atas kepemilikan anak-anak cerdas itu selain sejarah kemanusiaan itu
sendiri. Dalam perjalanan sejarah, kehadiran anak-anak cerdas ini telah memperkaya kemanusiaan yang membuat
kehidupan manusia menjadi lebih baik dan lebih bermartabat melalui olah pikir, olah hati, dan olah fisik yang mereka
miliki.

Karena itu, mengklaim kehadiran anak-anak cerdas sebagai milik kelompok tertentu merupakan wacana yang sesat
sebab mereka tidak milik siapa-siapa selain milik kemanusiaan itu sendiri.

Jika anak-anak cerdas itu menjadi milik kemanusiaan, maka melalui pengetahuan, bakat, dan kecerdasannya, mereka
mampu menyumbangkan perbaikan bagi masyarakat. Kehadiran anak-anak cerdas juga perlu menjadi berkat bagi
kemanusiaan yang lain dan tidak bisa diklaim atau dibatasi dalam membagi pengetahuan dan kekayaan kepada orang
lain. Karena itu, segregasi, pemisahan, karantina jelas bertentangan dengan hakikat pendidikan dan keberadaan anak-
anak cerdas itu sendiri.

Di sinilah visi keadilan sosial perlu ditumbuhkan di kalangan pendidik dan pengambil keputusan. Banyak teori pendidikan
menunjukkan, pengetahuan yang dibagikan itu akan memperkaya kemanusiaan dan masyarakat daripada disimpan dan
dimiliki seorang diri. Pada kenyataannya, ilmu pengetahuan itu terbentuk dan berkembang karena perjumpaan dengan
orang lain. Dalam perjumpaan dengan orang lain inilah ilmu itu berkembang. Ilmu yang dibagikan tidak membuat si
pemilik ilmu itu kian miskin, bahkan ia menjadi semakin kaya.

Menyesatkan

Dari sisi antropologi pendidikan, wacana ”anak cerdas” sebenarnya menyesatkan sebab paradigma ini membagi dua
kelompok manusia, cerdas dan tidak cerdas. Padahal, istilah ”anak cerdas” ini pun sering hanya didasarkan pada satu
kriteria, yaitu kemampuan akademis belaka.

Kini, kita kian tahu, ada banyak jenis kecerdasan. Maka, wacana ”anak cerdas” bisa mengecoh para pendidik dan
pengambil keputusan untuk memprioritaskan yang satu melebihi yang lain. Faktanya, sebenarnya tidak ada yang disebut ”
anak cerdas” sebab tiap anak memiliki kecerdasannya sendiri-sendiri.

Wacana tentang ”anak cerdas” muncul karena ada berbagai kepentingan yang ingin menjadikan mereka alat kepentingan
sempit daripada mendasarkan diri pada keprihatinan asasi pendidikan yang menganggap tiap anak berhak mendapat
layanan pendidikan prima sebab pada dasarnya tiap anak adalah anak-anak cerdas. Pemahaman sempit tentang
antropologi pendidikan yang meredusir anak cerdas sekadar instrumentasi kepentingan dalam jangka panjang akan
merugikan anak itu sendiri, bahkan merugikan masyarakat.

Layanan prima

Setiap anak memiliki potensi kecerdasan dan hak untuk mendapat layanan prima dalam pendidikan sehingga seluruh
potensi kemanusiaan dan kepribadiannya bertumbuh secara integral dan utuh. Separasi, karantina, program akselerasi,
dan pendewaan ide ”anak cerdas” sebagai lebih penting daripada keyakinan bahwa ”semua anak adalah cerdas”
menunjukkan adanya cacat pemahaman terhadap antropologi pendidikan yang dianut pendidik dan pengambil kebijakan.

Instrumentalisasi anak-anak cerdas demi nafsu kelompok kepentingan tertentu harus dihentikan, diganti dengan program
pendidikan yang lebih menghargai perkembangan dan pertumbuhan diri anak didik secara integral tanpa mencabut anak
didik dari lingkungan sosialnya. Jika ini terjadi, kita akan memetik buah-buah kehadiran mereka bagi masyarakat sebab
pada hakikatnya anak-anak itu adalah milik kemanusiaan, bukan milik segelintir orang yang memanfaatkan mereka demi
prestise, harga diri, dan kepentingan sempit mereka sendiri.

Oleh: Doni Koesoema A Mahasiswa Pascasarjana Boston College Lynch School of Education, Boston
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/17/23545189/siswa.cerdas.milik.siapa

Waspadai Temanmu

   Pertemanan kombinatif para politisi selalu mengagetkan meski tidak membuat kita terkejut. Rasanya déjà vu, sudah
pernah melihatnya.

Senyum mediatik Jusuf Kalla dengan Susilo Bambang Yudhoyono, atau kini dengan Taufik Kiemas, hanya meneruskan
tradisi pertemanan ajaib antarbeberapa aktivis mahasiswa 74-98 dengan orang- orang yang pernah memenjarakannya.
Pertemanan politis yang irasional ini biasanya dijustifikasi dengan argumen, dalam politik tidak ada teman abadi kecuali
kepentingan kekuasaan itu sendiri.

Sinisme ini sejalur dengan ungkapan yang sering diasalkan pada Voltaire, Mon dieu, gardez-moi de mes amis. Quant à
mes ennemis, je m'en charge (Tuhanku, lindungilah aku dari teman-temanku. Kalau musuh-musuhku, aku bisa
mengatasinya sendiri). Bagi Voltaire, kita harus waspada dan sinis bukan kepada musuh yang jelas bisa dipetakan, tetapi
justru kepada orang yang mengaku-aku teman.

Kebaikan relatif

Sebaliknya, Plato (abad ke-4 SM), tanpa sinisme menyakitkan, memberikan inspirasi jernih tentang model pertemanan
dalam bukunya, Lysis. Pertemanan (philia) selalu dilandasi kepentingan yang dianggap berguna bagi kedua pihak yang
terlibat. Dan, sejauh dianggap berguna dan terbaik untuk saat ini, pertemanan dilandaskan pada semacam kebaikan (to
agathon, goodness). Maka, di satu sisi ada macam-macam kebaikan sesuai tingkat persepsi mereka yang berteman dan
di sisi lain yang namanya teman selalu relatif.

Pada tingkat paling bawah, orang melakukan relasi pertemanan karena sama- sama ingin memuaskan nafsu makan,
minum, dan seks mereka (epithumia) serta mendapatkan kenikmatan sesaat. Di lokalisasi, pertemanan dua orang dijalin
secara temporer demi kesenangan akan seks dan uang yang de facto menjadi kepentingan bersama, artinya berguna dan
terbaik saat itu bagi keduanya.

Bukan hanya di remang-remang tempat melacur, di bawah sorot terang benderang kamera pun, kita bisa menyaksikan
relasi pertemanan politik antardua pihak yang mirip. Mereka bergonta-ganti pasangan dengan mudah. Yang satu butuh
survival, sementara yang lain butuh kenikmatan menguasai lewat uang. Wajar jika lalu muncul istilah pelacuran politik.
Artinya, di tingkat ini, kombinasi pertemanan hanya disetir epithumia. Dan sejauh kepentingan/kegunaan/kebaikan hanya
di tingkat nafsu, landasan pertemanan ini bersifat relatif. Semua tergantung dari derajat pemuasan nafsu. Bila ada pihak
yang tidak senang dan tidak puas, ganti pasangan adalah solusi logis. Sebuah logika yang jauh dari bimbingan budi
jernih. Artinya, tidak rasional karena kebaikan dalam arti ini benar-benar tidak pernah baik. Kebaikan dalam arti sekadar
memenuhi nafsu survival dengan sendirinya kalah luhur dari kebaikan, misalnya dalam arti pemerjuangan gengsi
nasional.

Pada tingkat tengah, kita menyaksikan politisi yang berteman dengan alasan ingin memperjuangkan nasib rakyat dan
membesarkan nama jaya Indonesia. Pertemanan tidak lagi dilandaskan pada pemuasan nafsu survival, tetapi demi
ambisi dan gengsi nasional. Bagi mereka, kepentingan politis bukan lagi demi menjarah kekayaan negeri. Mereka
menemukan, apa yang paling berguna dan terbaik saat ini adalah memberikan rasa bangga. Dengan demikian, kebaikan
bukan lagi soal harta atau seks, tetapi harga diri (thumos). Demi memenuhi kenikmatan memiliki kebanggaan nasional,
mereka akan mencari teman atau partai yang sama-sama memperjuangkan gengsi harga diri.

Namun, kebaikan—dalam arti pemenuhan gengsi yang menjadi landasan berteman—bersifat relatif. Hasrat menggebu
tidak bisa diterapkan untuk hidup bermasyarakat. Alih-alih berpikir jernih, kebaikan dalam arti harga diri justru mengancam
akal sehat. Kita sudah mengalami betapa politik nasional tahun 1960-an de facto dibayar rakyat dengan kelaparan.

Pada kedua tingkat pertemanan itu, kebaikan dalam arti pemuasan nafsu survival dan gengsi bersifat relatif. Mencari
teman sekadar untuk memuaskan makan- minum-seks dan gengsi bersifat irasional. Dan, karena memelintir akal sehat
serta budi jernih, wajar jika akal-akalan selalu ditemukan untuk membenarkan pasangan yang digonta-ganti.

Kebaikan sejati

Platon mengajak merenungi tingkat- tingkat pertemanan dan kepentingan (kebaikan) relatif itu untuk dilampaui. Sejauh
bisa dimurnikan, Platon akan menunjukkan, ada kebaikan sejati yang rasional dan mendekatkan kita pada praktik hidup
yang tenang, menyejukkan, dan menjanjikan kebahagiaan durable.

Itu mengandaikan kita berani berpikir bahwa berteman dalam politik tidak bisa hanya dilandaskan pada soal uang atau
harga diri. Sejauh bisa, pertemanan dibangun demi komitmen nilai. Artinya, memberantas korupsi, meningkatkan
kesejahteraan rakyat, menegakkan pluralisme konstitutif Pancasila, dihayati bukan lagi sebagai lips service untuk
membenarkan motif-motif epithumia dan thumos, tetapi benar-benar dijadikan kriteria dan value dalam mencari teman
berpolitik.

Dengan prinsip ini, kita bisa memahami dengan budi jernih mengapa teman akhirnya bersifat relatif. Bila komitmen nilai
jelas, siapa pun teman Anda relatif. Kalau ia memeluk nilai yang sama luhurnya, kita akan berteman dengannya. Untuk
sampai ke situ, kita harus tajam me-wiweka (discern) kebaikan apa yang sedang diperjuangkan: apakah kebaikan dalam
arti nafsu dan gengsi irasional atau kebaikan sejati yang berbudi. Semoga perburuan teman politis tidak mengoyak
kedamaian rakyat yang sudah senang dan tenang dengan Pemilu 2009 yang lancar dan kini memerlukan hidup normal.

Oleh: A Setyo Wibowo Pengajar STF Driyarkara, Jakarta
sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/01/04225935/waspadai.temanmu

Saat Negativitas Menemukan Makna Baru


Dalam keseharian, kita sering menjumpai fenomena mengerikan. Hal itu lalu menjelma menjadi ketakutan dalam diri
setiap manusia dan diasosiasikan sesuatu yang buruk dan negatif. Manusia yang sadar selanjutnya menetapkan yang
negatif dan buruk itu sesuatu yang mesti dihindari dalam kehidupan manusia. Bahkan ada yang melacak dan
menyusunnya menjadi seperangkat teori, teori ”negativitas”.

Demikian antara lain yang kita temukan dalam buku Memahami Negativitas, Diskursus tentang Massa, Teror dan Trauma.
Buah pena F Budi Hardiman itu menyajikan negativitas menjadi diskursus filsafat yang diolah dari ragam kasus dan
kumpulan teori filsuf Eropa modern.

Namun, marilah coba melihat ihwal yang negatif itu dalam perspektif berbeda. Berangkat secara sederhana dari definisi
negativitas Dr Karlina Supelli dalam epilog buku itu sebagai perbandingan. Karlina menulis, ”Negativitas bukanlah
sesuatu yang netral. Dia juga bukan ketiadaan atau nol, melainkan sesuatu, yakni sesuatu yang tidak didefinisikan dari
dirinya sendiri, melainkan dari efek yang ditimbulkannya” (hal xix).

Dari definisi di atas, kita mengetahui, sesuatu yang negatif tidak memiliki ciri independen pada dirinya sendiri, tetapi ia
dapat dikonsepsikan apabila dihubungkan dengan yang lain. Olehnya itu, negativitas hanya kita temukan pada aras
aksiologi. Jamak diketahui aksiologi menghendaki pola relasional.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah term negativitas terlepas dari konsep ”teoretis-ontologis”? Apabila
ia tidak memiliki status ontologis, adakah kriteria kebenaran bagi negativitas itu? Namun, jika negativitas bertumpu
kepada fenomena tertentu, adakah fenomena yang dapat membenarkan dirinya sendiri? Kepelikan-kepelikan ini tentu
melibatkan kajian filsafat etika yang menyediakan jawaban-jawaban khas.

Definisi Islam

Berbeda dengan definisi negativitas di atas, para filsuf Muslim memiliki definisi yang bertolak belakang. Bagi mereka, yang
negatif atau kejahatan justru memiliki nilai relatif dan noneksistensi. Bahasan ini memiliki sejarah yang panjang akar-
akarnya tertanam dalam pemikiran Yunani kuno, khususnya Plato. Namun, para filsuf mutakhir telah mendedahnya secara
lebih luas dan mendalam.

Maksud filsuf Muslim, kejahatan adalah noneksistensi ialah bahwa kebaikan dan kejahatan adalah dua hal yang menyatu
tanpa bisa dipisah-pisahkan ketika di suatu tempat ada kejahatan di situ juga pasti ada kebaikan serta di mana ada
kebaikan di situ pula ada kejahatan. Kebaikan dan kejahatan demikian berpadu dan bersenyawa di alam ini. Namun,
bukan seperti persenyawaan kimiawi, persenyawaan yang lebih mendalam dan lebih halus. Itulah corak khas
persenyawaan antara eksistensi dan noneksistensi.

Murtadha Muthahhari (1920-1979), dalam karyanya, Al-’Adl Al-Ilahiy, berpendapat bahwa ”eksistensi dan noneksistensi
tidak membentuk dua kelompok yang terpisah di alam eksternal”. Dengan lain perkataan, noneksistensi ialah
ketidakadaan dan kehampaan yang tak mungkin mengisi tempat tertentu di samping eksistensi.

Di alam fisik yang merupakan alam potensialitas dan aktualitas, gerakan dan evolusi, oposisi dan konflik, di mana saja
bentuk-bentuk itu berlaku, di situ pula bentuk-bentuk noneksistensi mungkin berlaku. Sebagai contoh, saat kita berbicara
ihwal ”kebutaan”, kita tidak mesti mengira bahwa kebutaan itu adalah obyek tertentu dan benda nyata yang ada di mata
tunanetra. Sebaliknya, ”kebutaan” itu sendiri adalah noneksistensi, kehilangan, kehampaan, dan kekurangan ”
penglihatan” yang pada dirinya sendiri tidak memiliki realitas terpisah dan mandiri.

Hukum baik-buruk

Apabila negativitas kita identikkan dengan hal buruk dan menakutkan, dia pun memiliki hukum ”teoretis-ontologis”. Saat
kita berbicara ihwal keburukan dan kebaikan sebetulnya kita berbicara mengenai eksistensi dan noneksistensi. Sebab,
jika bukan merupakan noneksistensi itu sendiri, kejahatan dan keburukan pastilah merupakan eksistensi yang melibatkan
sejenis noneksistensi.

Dalam arti, ia merupakan eksistensi yang pada dirinya sendiri baik dan bagus, tetapi menjadi jahat dan buruk karena
mengimplikasikan noneksistensi atau kekurangan dan kehilangan pada sesuatu. Jadi, hanya pada implikasi terhadap
noneksistensi ”sesuatu” menjadi kejahatan tertentu bukan pada sisi lainnya.

Sebut saja, kezaliman dikatakan jahat karena ia menghilangkan hak orang tertindas untuk mendapatkan kesempurnaan
haknya. Demikian kejahatan dapat diklasifikasikan menjadi dua. Kejahatan yang pada dirinya sendiri noneksistensial dan
kejahatan yang sebetulnya eksistensial, tetapi diberi sifat jahat karena menyebabkan kekurangan dan ketiadaan bagi yang
lain.

Makna baru

Negativitas dengan segala bentuk variabelnya mesti diletakkan pada poros yang sesungguhnya. Kekeliruan
menempatkan akan berimbas pada runtuhnya bangunan ontologisnya. Namun, selain itu, ada fungsi lain dalam
penjelasan mengenai kejahatan dan kebaikan. Fungsi itu adalah hubungan kausal dan konsekuensial antara kejahatan
atau bencana dengan yang kita sebut kesempurnaan atau kebahagiaan.

Hubungan ini memperlihatkan bahwa di tiap hal jahat atau buruk sesungguhnya terkandung hal baik dan indah. Di sinilah
relasi itu memberi semacam ”dampak positif”.

Filsuf Muslim percaya, adanya kejahatan dan bencana adalah manifestasi keseluruhan alam yang indah ini. Dampak
keduanya ialah hal yang indah memperoleh makna dan konsepnya dari sesuatu yang buruk.

Sekiranya yang buruk itu tidak ada, kita pasti tidak dapat menyebut sesuatu itu indah. Sebab, kesadaran tentang makna
keindahan itu terkait dengan eksistensi kejelekan dan perbandingan antarkeduanya.

Maka, pernyataan bahwa kejahatan adalah ketiadaan bukan berarti menafikan peran manusia untuk mengubah alam dan
menyempurnakan masyarakat atau dirinya sendiri. Perlu diingat lagi, kejahatan secara aksidental hanya ada di aras
aksiologi. Sebuah pola yang tidak dapat berdiri sendiri!

Oleh: M Said Marsaoly Koordinator Jaringan Aktivis Filsafat Islam, penggiat di Yayasan RausyanFikr, Yogyakarta.
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/11/03412294/saat.negativitasmenemukan.makna.baru

Kekuatan Tersembunyi Dalam Struktur Atom

Wednesday, March 20, 2013







   Udara, air, pegunungan, hewan, tumbuhan, tubuh kita, kursi laptop tempat anda browsing, segala sesuatu, dari benda yang paling kecil sampai yang paling besar yang anda lihat, sentuh, dan rasakan terbuat dari atom. Tangan anda maupun mouse yang ada pegang ini terbuat dari atom. Atom adalah partikel yang sedemikian kecilnya sehingga mustahil kita bisa melihat salah satu saja dari atom walaupun sudah menggunakan mikroskop yang paling kuat. Garis tengah sebuah atom tunggal adalah satu per sejuta milimeter.

   Seseorang tidak mungkin melihat ukuran yang luar biasa kecil ini. Karenanya, marilah kita mencoba memahaminya dengan menggunakan contoh. Anggaplah anda memegang kunci ditangan anda. Tidak diragukan lagi, anda tidak mungkin melihat atom penyusun kunci ini. Agar dapat
melihat atom mari kita anggap ukuran kunci ini sama dengan ukuran bumi, saat kunci menjadi sebesar bumi, maka setiap atom didalam kunci adalah seukuran buah anggur, jadi barulah kita dapat melihatnya.



   Lalu apa yang berada didalam struktur yang sangat kecil ini? Walaupun berukuran kecil, didalam atom terdapat sistem rumit yang khas dan sempurna. Setiap atom terdiri dari sebuah inti dipusat dan elektron yang mengitari inti pada jalur lintasan "orbit" yang sangat jauh. Inti atom terletak dipusat atom dan mengandung proton dan neutron dalam jumlah tertentu, tergantung dari sifat atau karakteristik atom.



Jari-jari inti atom adalah sekitar sepersepuluh ribu jari-jari atom. Sekarang mari kita selidiki nekleus dari atom berukuran buah anggur saat kita memperbesar kunci menjadi seukuran bola bumi ini sebagaimana telah disebutkan tadi. Namun penyelidikan ini sia-sia karena pada seukuran inipun jelas kita tidak daat menyelidiki nukleus yang masih luar biasa kecilnya. Agar kita dapat melihat nukleus, buah anggur yang melambangkan atom harus diperbesar sekali lagi sehingga menjadi bola raksasa yang bergaris tenggah 200 meter "656 kaki". Walaupun ukuran bola sudah sangat luar biasa, nukleus atom tidak akan lebih besar dari pada sebutir debu.

   Namun cukup menakjubkan bahwa, walaupun volume nukleus hanya sepersepuluh ribu miliar volume atom, massanya mencapai 99,5% masa atom. Tetapi bagaimana bisa sesuatu disatu sisi memiliki hampir seluruh massa benda, sementara, di sisi lain, hanya sedikit sekali mengisi ruang benda tersebut? Alasannya adalah massa jenis "densitas" atom yang menyusun massanya, terpust dlam nukleus atom. Ini dapat terjadi karena adanya gaya yang disebut gaya nuklir yang kuat. dengan adanya gaya ini, nukleus atom tetap bersatu tanpa terpencar.

   Hal-hal yang sudah kita uraikan sejauh ini hanya sekelumit perincian tentang sistem sempurna yang terdapat didalam sebuah atom. Sebenarnya sebuah atom terdapat struktur yang amat luas yang dapat ditulis dalam berjilid-jilid buku. Namun sedikit perincian yang saya sebutkan didini saja sudah cukup bagi kita untuk melihat penciptaan atom yang menakjubkan dan kenyataan bahwa ALLAH adalah pencipta semua ini.


Sumber Referensi : http://www.indocreativecenter.com/2012/05/kekuatan-tersembunyi-dalam-struktur.html

Sisi Lain Ubur-Ubur Yang Belum Dikenal


   Semua Orang tahu ubur-ubur serta betapa menarik dan anehnya jenis hewan ini bagi kita. Tetapi, ubur-ubur mahkluk yang 95% persen terbuat dari air, juga memiliki sejumlah keistimewaan mengejutkan yang tidak diketahui secara umum. Sebagian jenisnya, misalnya membuat bingung musuh-musuhnya dengan memancarkan cahaya, sementara sebagian yang lain menghasilkan racun mematikan di dalam tubuhnya.
Ubur-ubur dapat hidup di hampir segala iklim, dan sebagian besar berbahaya bagi mahkluk hidup lainnya. Ubur-ubur memiliki struktur yang tembus pandang dan tentakel "organ yang menyerupai belalai" yang berjuntai dari bagian tubuhnya. Pada beberapa spesies, ada cairan beracun didalam tentakelnya. Ubur-ubur menyemprotkan racunnya dengan cara menyemprotkan racun ini dan membunuh musuh-musuhnya. Ubur-ubur yang tidak mempunyai  racun te
ntu saja bukan berarti tidak dapat mempertahankan diri. Sebagian diantaranya menggunakan sel yang menghasilkan cahaya untuk melindungi dirinya. Mereka bertindak dengan terencana dan menggunakan metode untuk menyelamatkan diri dari kura-kura laut, burung laut, ikan dan paus yang semuanya merupakan musuhnya. Saat ubur ubur berenang melarikan diri dari musuhnya-musuhnya, seluruh tubuh ubur-ubur memancarkan cahaya. Tetapi saat musuh mencoba menggigitnya, cahaya didalam tubuh yang berbentuk yang lonceng pun padam, dan tentakel yang masih bercahaya dilepas dari tubuhnya dengan cara ini, musuh-musuhnya mereka mengalihkan perhatian pada tentakel tersebut. Ubur-ubur mengambil keuntungan dari situasi ini dan segera melarikan diri.

   Seekor "serdadu perang portugis" merupakann ubur ubur raksasa yang juga dikenal sebagai "ubur-ubur biru." Hewan ini hidup disemua wilayah yang beriklim sedang dan tropis, termasuk di mediterania "laut tengah". "serdadu perang portugis" memiliki organ yang mirip layar berwarna biru tua yang muncul sampai 20 cm "8 inci" dari permukaan laut. Organ inilah yang memungkinkan hewan berenang dan bergerak. Pada tentakelnya yang berbentuk spiral dan kapsul yang mengandung racun, yang menyebabkan kelumpuhan.

   Semua keistimewaan ubur-ubur ini menarik perhatian. bagaimana mungkin mahkluk yang hampir seluruhnya terdiri dari air ini, yang layu dan mati segera bila terkena sinar matahari, menghasilkan zat-zat kimia? Dan bagaimana meahkluk ini dapat mengembangkan taktik untuk membiingungkan musuh-musuhnya.

   Ubur-ubur tidak memiliki matra untuk melihat mangsa dan musuhnya, tidak pula memiliki otak, mahkluk ini hanya bverupa massa air seperti agar-agar, walaupun demikian dia menjalankan tingkah laku berakar seperti menggunakan berbagai taktik, dan meloloskan diri dari musuh-musuhnya, jelaslah bahwa pikiran yang menghasilkan cara-cara pemecahan tidak mungkin berasal dari ubur-ubur. Seseorang yang merenungi ubur-ubur, serta keistimewaannya dan tindakannya, akan memahami bahwa hewan ini tidak dapat melakukan sesuatu dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri, dan bahwa hewan tersebut dikendalikan oelh kekuasaan yang memiliki kekuasaan diatas segalanya. Kekuasaan ini yang tiada bandingannya, adalah milik ALLAH. Dengan menciptakan sederetan hewan yang mengagumkan dari berbagai jenis, ALLAH menunjukkan kebijaksanaan-Nya yang tinggi dan pengetahuan-Nya yang tiada tara di dalam mahkluk-mahkluk ini. Ubur-ubur hanyalah salah satu contohnya.

Sumber Referensi : http://www.indocreativecenter.com/2012/06/sisi-lain-ubur-ubur-yang-belum-dikenal.html

Dentuman Besar "THE BIG BANG"


   Tahukah Anda bahwa segala sesuatu yang anda lihat disekitar Anda, tubuh Anda sendiri, rumah yang Anda huni, kursi yang Anda duduki, ayah dan ibu Anda, pepohonan, burung-burung, tanah dan buah-buahan, singkatnya semua mahkluk hidup dan benda mati yang mampu Anda bayangkan, timbul melalui bergabungnya atom-atom yang disebabkan oleh "Dentuman Besar" atau "Big Bang" sadarkah anda kan kenyataan bahwa, setelah ledakan ini muncullah keteraturan yang sempurna diseluruh jagat raya? Lalu apakah dentuman besar itu?
Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan dan penghitungan yang dilakukan dengan teknologi mutahir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengambang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengem
bangannya darisebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan adalah saat ini alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut "Dentuman Besar" atau "Big bang".

   Penciptaan suatu keteraturan sempurna menyusul peristiwa Big Bang sama sekali bukanlah gejala yang dapat dianggap sebagai peristiwa biasa. Pikirkanlah tentang bahwa beribu-ribu jenis ledakan sering terjadi di bumi, tetapi tak ada keteraturan yang dihasilkan. bahkan sebaliknya semua itu mengarah ke akibat ysng menghancurkan, merusak, dan membinasakan. Contohnya bila bom atom atau bom hidrogen, letusan gunung berapi ledakan gas alam, dan ledakan yang terjadi dimatahari diamati, kita dapat melihat bahwa dampak yang ditimbulkannya selalu membahayakan. Akibat yang bersifat membangun keteraturan atau sesuatu yang lebih baik tidak pernah diperoleh sebagai akibat dari suatu ledakan. Akan tetapi, menurut data ilmiah yang diperoleh dengan bantuan teknologi modren, Big Bang yang terjadi ribuan tahun yang lalu, menyebabkan perubahan dari tidak ada menjadi ada, bahkan menghadirkan keberadaan yang sangat teratur dan selaras.

   Sekarang, mari kita pikirkan contoh berikut : Di bawah tanah, terjadi ledakan dinamit dan, setelah ledakan ini, istana paling inda yang pernah disaksikan dunia, lengkap dengan jendela, pintu, dan perabotan yang mewah dan indah, tiba-tiba muncul. Masuk akalkah untuk menyetakan bahwa, "ini menjadi ada secara kebetulan"? Dapatkah istana itu terwujud dengan sendirinya? Tentu saja tidak!
Alam semesta yang terbentuk setelah Big Bang merupakan sistem yang demikian hebat, terencana dengan angat cermat, dan menakjubkan sehingga ini sudah pasti tidak dapat disejajarkan dengan istana yang ada di bumi. Dalam keadaan seperti ini, sama sekali tidak masuk akal untuk menyatakan bahwa alam semesta menjadi ada dengan sendirinya. hal ini menunjukan kepada kita keberqadaan Sang Pencipta yang menciptakan benda atau materi dari ketidakadaan  dan Yang menjaganya setiap saat dalam kendaliNya. dialah yang maha bijaksana dan mahakuasa. Sang pencipta ini adalah ALLAH, yang mahaperkasa.

Sumber Referensi : http://www.indocreativecenter.com/2012/06/dentuman-besar-big-bang.html
 
Support : Segitiga Ilmu | Getaran Ilmu | Bang Tomo
Copyright © 2012. Segitiga Ilmu - All Rights Reserved
Created By Creating Website | Modified SnowClift
powered by Blogger